|
|
Produktivitas Enam Varietas Kacang Hijau di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta |
|
|
|
|
Oleh Prajitno al KS, dkk
|
|
Senin, 04 Juni 2012 11:46 |
|
Beberapa genotipe kacang hijau yang dibudidayakan petani DIY produktivitasnya relatif masih
rendah yaitu berkisar 0,64 ton/ha, hal ini karena penggunaan varietas unggul belum membudaya.
Upaya peningkatan hasil tanaman pangan yang paling mudah dan ramah lingkungan adalah
penggunaan varietas unggul. Dukungan sumberdaya alam di DIY memungkinkan untuk melakukan
usahatani kacang hijau, karena terdapat lahan tegal 97.559 ha dan sawah tadah hujan 9.631 ha.
Pengkajian enam varietas kacang hijau dilaksanakan di Cangkringan, Ngaglik, Sleman. Tanaman
kacang hijau dilakukan pada lahan sawah tanggal 9 Mei 2005 dan panen dilaksanakan pada tanggal
20 Juli 2005. Sebanyak enam varietas kacang hijau sebagai perlakuan yaitu (1) Walet, (2) Seriti, (3)
Parkit, (4) Murai, (5) Perkutut dan (6) Kenari. Rancangan Acak Kelompok dengan ulangan empat kali.
Luas plot masing-masing perlakuan adalah 2 x 15 m, jarak tanam 40x15 cm dipertahankan 2 tanaman
tiap rumpun sedangkan jarak antar plot 40 cm. Variabel yang diamati adalah warna hipokotil, jumlah
tanaman tumbuh, tinggi tanaman menjelang panen, jumlah polong tiap rumpun, umur panen, berat
polong saat panen, berat biji kering. Data dianalisis anova dan diuji DMRT untuk mendapatkan
varietas kacang hijau yang hasilnya paling tinggi. Hasil pengkajian menunjukkan, bahwa budidaya
kacang hijau dapat dilakukan karena usahatani kacang hijau di Sleman DIY mampu menghasilkan
sesuai potensi varietas unggul yang dikaji, bahkan menempati posisi di atas rata-rata hasil dalam
deskripsi varietas. Di antara enam varietas kacang hijau yang dikaji diperoleh dua varietas kacang
hijau yang nilai R/C nya > 2 dan ROI > 1, yaitu varietas Murai dan Walet hasilnya 1,80 dan 1,66 ton/ha
biji kering. Adapun R/C dan ROI terendah diberikan oleh varietas Perkutut yaitu 1,36 dan 0,36.
Dengan demikian untuk mengembangkan kacang hijau di Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
sebaiknya menggunakan varietas Murai, karena telah terseleksi diantara enam varietas unggul.
Alternatif ke dua adalah varietas Walet, hasilnya 1,66 ton/ha dengan R/C dan ROI 2,02 dan 1,02. |
|
|
Keterkaitan Kondisi Sosial Ekonomi Petani Penggarap Sabuk Hijau (Greenbelt) dengan Kerusakan Lahan dan Pendangkalan Waduk Wonogiri |
|
|
|
|
Oleh Sugeng Widodo, dkk
|
|
Senin, 04 Juni 2012 11:44 |
|
Waduk Wonogiri memiliki luas muka 73,6 km2, dengan luas daerah tangkapan air (DTA) 1.350
km2. Tujuan utama waduk ini adalah pengendali banjir sungai Bengawan Solo, menyediakan air irigasi
30.000 ha dan pembangkit tenaga listrik 12.400 KWatt. Saat ini dirasakan laju
sedimentasi/pendangkalan waduk lebih cepat dibandingkan dengan perencanaan awal; salah satu
penyebab pendangkalan ini diduga karena kerusakan daerah sabuk hijau (greenbelt). Permasalahan
inilah yang mendasari diperlukannya penelitian untuk memperoleh masukan dalam alternatif
penanganan kawasan sabuk hijau yang akhirnya dapat menurunkan sedimentasi. Penelitian
dilaksanakan pada bulan September s.d. Desember 2004. Lokasi penelitian di Desa Pokoh Kidul,
Kecamatanan Wonogiri Kabupaten Wonogiri; lokasi penelitian merupakan daerah kawasan greenbelt.
Metode penelitian secara survai, penentuan lokasi secara purposive dengan pengambilan data pada
seluruh responden sebanyak 20 orang petani kooperator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: dari
sisi manusia (1) a. umur penggarap relatif tua/kurang produktif rerata 54 tahun, pendidikan rendah
setingka SD klas 4 dan c. mata pencaharian utama petani (90%); (2) dari sisi keragaan tanaman
produktivitas per ha relatif rendah pada ketiga komoditi yaitu ubikayu, kacang tanah dan jagung; (3)
pendapatan keluarga 248.600 / bln/KK, lebih rendah dari UMR Kabupaten Wonogiri sebesar Rp
400.000,- dan KMH Jateng Rp 272996/Kel/Bln; dari sisi persepsi petani terhadap sabuk hijau bahwa
(4) petani penggarap sebagian besar mengerti fungsi dan manfaat sabuk hijau kaitannya dengan
pendangkalan waduk, karena faktor kemiskinan, reformasi serta dampak krisis moneter dan
kurangnya perhatian pengelolan sabuk hijau menyebabkan salah satu faktor penyebab percepatan
pendangkalan waduk karena limpasan erosi. |
|
Rehabilitasi Lahan Sawah dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Tanaman Padi di Desa Sendang Arum, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta |
|
|
|
|
Oleh Mulud Suhardjo, dkk
|
|
Senin, 04 Juni 2012 11:42 |
|
Pelestarian swasembada pangan menghadapi banyak kendala, diantaranya pelandaian
produktivitas padi sawah, penurunan efisiensi penggunaan pupuk dan penyusutan lahan pertanian
subur yang dikonversi menjadi lahan non pertanian. Mengingat produksi beras mutlak harus
ditingkatkan dan lingkungan tetap terpelihara, maka perbaikan lahan sawah mendesak untuk
dilakukan. Produktivitas padi berkorelasi nyata positip dengan kandungan liat tanah, pH, C-organik,
KTK dan unsur hara mikro lainnya. Untuk itu telah dilaksanakan pengkajian rehabilitasi lahan sawah di
Desa Sendangarum, Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman, pada tanah Typic Tropaquepts.
Rancangan yang digunakan rancangan Acak kelompok dengan 3 kali ulangan. Adapun perlakuannya
yaitu a) Fine Compost dosis 750 kg /ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 15 kg/ha dan KCl 15 kg/ha b)
PKZ (Pupuk kandang + Zeolit perbandingan 1 : 1) dosis 750 kg / ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 15
kg/ha dan KCl 15 kg /ha c) Zeolit dosis 750 kg/ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 15 kg /ha dan KCl 15
kg/ha d) Pupuk kandang dosis 3000 kg/ha, Urea 150 kg/ha, SP-36 15 kg dan KCl 15 kg/ha e)
Perlakuan petani (kontrol) dengan dosis pupuk Urea 350 kg/ha, SP-36 240 kg/ha. Ukuran plot
menggunakan minimum ± 30 m2/600 – 1200 m2 , teknik budidaya sesuai anjuran yang telah
berkembang di daerah pengkajian. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa rehabilitasi lahan sawah
dengan menggunakan bahan pembenah tanah (Amelioran) Zeolit dan pupuk kandang mampu
meningkatkan produksi padi mencapai diatas 7 ton/ha gabah kering panen. Disamping itu juga dapat
meningkatkan jumlah anakan, mengurangi gabah hampa dan meningkatkan kesuburan tanahnya. |
|
|
Pengolahan Limbah Kandang Ayam Potong dan Kelembagaan yang Menangani |
|
|
|
|
Oleh Erna Winarti, dkk
|
|
Senin, 04 Juni 2012 11:42 |
|
Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh probiotik pada pengolahan limbah
kandang ayam pedaging terhadap kualitas pupuk organik yang dihasilkan dan kelembagaan pengolah
limbah kandang ayam pedaging. Pengolahan limbah kandang menggunakan rancangan acak lengkap
dengan 4 perlakuan dan diulang 3 kali, dengan penambahan probiotik dan urea sebagai perlakuan.
Perlakuan (A) 1 ton limbah kandang ditambah 4 kg urea dan 4 kg probiotik; perlakuan (B) 1 ton limbah
kandang ditambah 3 kg urea dan 3 kg probiotik; perlakuan (C) 1 ton limbah kandang ditambah 2 kg
urea dan 2 kg probiotik; perlakuan (D) 1 ton limbah kandang tanpa ditambah urea dan probiotik
(kontrol). Hasil pengamatan terhadap kualitas pupuk organik yang dihasilkan menunjukkan bahwa
kandungan nitrogen perlakuan A lebih tinggi dibanding kontrol (P<0,05). Kandungan karbon perlakuan
D (kontrol) lebih tinggi dibanding perlakuan A, B dan C. Kelembagaan pengolahan limbah dihasilkan
melalui musyawarah antara peternak dengan petani dan diperoleh kesepakatan bahwa yang
bertanggung jawab mengolah limbah kandang adalah peternak. Pengkajian ini dapat disimpulkan
bahwa pengolahan limbah kandang ayam pedaging dengan penambahan probiotik dan urea mampu
menghasilkan pupuk organik dengan kualitas baik. Pengolahan limbah kandang ayam menjadi
tanggung jawab peternak. |
|
Kajian Hubungan Antara Berbagai Faktor Kesuburan Tanah dan Produktivitas Tanaman Padi di Sentra Produksi Padi Wilayah Kecamatan Temon, Panjatan dan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo |
|
|
|
|
Oleh Damasus Riyanto, dkk
|
|
Senin, 04 Juni 2012 11:39 |
|
Data berbagai faktor kesuburan tanah yang terdiri dari faktor indogen sifat-sifat kimia
tanah dan penggunaan pupuk dapat dihubungkan dengan tingkat produktivitas tanaman padi di
kawasan sentra produksi padi untuk mengetahui sifat-sifat kimia tanah mana yang lebih
berpengaruh terhadap produktivitas padi. Pengkajian didasarkan atas hasil survei tanah di
lapang, penentuan satuan peta tanah, dan hasil analisis laboratorium sifat-sifat kimia tanah
secara lengkap. Lokasi pengkajian ditentukan pada kawasan yang sesuai (S1) untuk
pengembangan penanaman padi yaitu kawasan yang mempunyai fisiografi kipas alluvial atau
dataran alluvial di kawasan kecamatan Temon, Panjatan dan Sentolo kabupaten Kulonprogo.
Survei tanah didasarkan atas pendekatan fisiografi melalui pengamatan di lapang dengan
menggunakan peta topografi skala 1 : 25.000 sebagai peta dasar. Metode survei di lapangan
menggunakan sistem grid dengan kerapatan sekitar 500 m antar baris, sedang dalam baris
sesuai kondisi fisiografi di lapang. Pengamatan karakteristik tanah dilakukan melalui pemboran
tanah hingga kedalaman 1,0 meter untuk mengetahui bahan induk dan jenis tanah di lokasi
pengkajian. Untuk mengetahui bahan induk dan karakteristik tanah lainnya dalam satu satuan peta
tanah digali beberapa minipit atau profil tanah hingga kedalaman bahan induknya dan dilakukan
analisa sampel tanah di laboratorium tanah dan pupuk BPTP Yogyakarta. Hasil pengkajian
menunjukkan bahwa pada umumnya lokasi pengkajian memiliki kandungan KTK cukup tinggi,
yang didominasi oleh kandungan Ca, Mg dan K yang cukup tinggi, demikian juga kandungan
P2O5 di dalam tanah adalah tinggi. Pupuk kandang biasa digunakan oleh petani setempat
sebagai sumber bahan organik dengan kisaran dosis sekitar 1 –2 ton/ha, sedang pupuk anorganik
yang biasa digunakan adalah Urea dan SP-36 dengan dosis masing-masing 300 kg/ha dan 100
kg/ha. Sedangkan penggunaan pupuk K adalah sangat jarang dan beberapa tempat tidak
menggunakan pupuk K. Hasil analisis korelasi dan regresi pada beberapa faktor kesuburan
tanah dengan tingkat produksi padi di wilayah yang sesuai untuk pengembangan dan peningkatan
produksi padi menunjukkan bahwa kandungan Ca, Mg dan K tersedia, P2O5 tersedia, serta
bahan organik tanah merupakan faktor-faktor sifat kesuburan tanah yang menentukan tingkat
produktivitas lahan sawah, menentukan kuantitas maupun kualitas hasil panen padi di kawasan
tersebut. Sehingga hal ini perlu diperhatikan dan senantiasa dipantau tingkatan status hara /
kesuburan tanahnya secara periodik dalam rangka mendukung pengembangan program
swasembada pangan di kabupaten Kulonprogo. |
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |