Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Jenis informasi apa yang anda diperlukan melalui web site BPTP Yogyakarta:
 
UPBS BP2TP
e-Produk
banner2
banner1
Pengenalan Ayam KUB
KRPL
Tikus
Sinta

Download

Berita
Seminar Forum Komunikasi Ilmiah BPTP Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Kusnoto, S.Sos   
Selasa, 22 Oktober 2013 15:31

Seminar internal sebagai wahana Forum Komunikasi Ilmiah BPTP Yogyakarta diselenggarakan hari Kamis (17/10) dengan mempresentasikan  dua  makalah dengan judul 1) Kajian Sistem Penyuluhan Pertanian di Provinsi Maluku oleh Dr. Rahima Kaliky, M.Si. dan 2) Peran dan Tantangan Jabatan Fungsional  Dalam Era Reformasi Birokrasi oleh Kusnoto, S.Sos. Peserta seminar sebanyak 40 orang terdiri dari pejabat fungsional peneliti, penyuluh, pustakawan di lingkup BPTP Yogyakarta.  Dalam paparannya Dr. Rahima Kaliky, M.Si. menyampaikan Kajian Sistem Penyuluhan Pertanian di Provinsi Maluku pada prinsipnya merupakan adopsi teknologi dalam penyelenggaraan dan revitalisasi sistem penyuluhan pertanian yang diharapkan lebih maju serta memantau dinamika kualitas penyuluhan yang optimal untuk memberdayakan kelompok tani  dalam pembangunan pertanian di Provinsi Maluku. Diskusi yang berlangsung diantaranya terkait tampilan presentasi dan teknis penyampaian  perlu disesuaikan dengan waktu tersedia. Kepala BPTP Yogyakarta  menyampaikan bahwa yang paling penting dalam orasi ilmiah tingkat doktoral adalah filosofi  harus dapat menyakinkan penguji bahwa hasil penemuan kajian ini merupakan hal baru yang layak dipertahankan di depan tim penguji.

Sedangkan dalam pemaparan kedua Kusnoto, S.Sos. dengan judul Peran dan Tantangan Jabatan Fungsional dalam Era Reformasi Birokrasi bahwa Undang Undang  Nomor 43/ 1999 tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok Pokok Kepegawaian.  Pada pasal 17 ayat 1 PNS dapat diangkat dalam jabatan dan pangkat tertentu, sedangkan pasal 17 ayat 2  menyatakan bahwa pengangkatan PNS dalam suatu jabatan dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalisme  sesuai dengan kompetensi, potensi kerja dan jenjang pangkat yang ditetapkan  sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dilingkungan Kementerian Pertanian khususnya lingkup Badan Litbang Pertanian jabatan fungsional yang sudah dikembangkan sebanyak 23 jabatan fungsional. Sistem pola pengembangan jabatan struktural diawalai dari eselon V, naik ke Eselon IV,  Eselon III,  Eselon II dan  Eselon I.  Jabatan fungsional didasarkan pada  angka  kredit yang dipersyaratkan sesuai dengan jenjang kepangkatannya, yang diawali dari jenjang pertama, naik ke jenjang muda,  jenjang madya dan jenjang utama. Dalam diskusi Kepala BPTP Yogyakarta memberi apresiasi kepada pegawai yang mengikuti pelatihan, seminar dan temu teknis untuk menularkan hasil pertemuannya pada seminar bulanan di BPTP Yogyakarta. Prinsipnya pengembangan jabatan fungsional merupakan karier PNS yang dapat dioptimalkan sesuai dengan potensi dan spesialisasinya disiplin ilmu kepada pejabat fungsional untuk mencapai pangkat tertinggi dengan kreasi mandiri, dan menanamkan kebanggaan atas profesi untuk  mewujudkan keberhasilan visi dan misi organisasinya.

LAST_UPDATED2
 
Sosialisasi Kalender Tanam Terpadu 2013/2014 PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dra. Tarfuah   
Senin, 21 Oktober 2013 15:27

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas pangan, salah satunya dengan cara mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), cara ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani yang optimal. Pada tanggal 17 Oktober 2013 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta melaksanakan Sosialisasi Kalender  Tanam (KATAM) Terpadu Musim Tanam (MT) I Tahun 2013/2014 Dalam Rangka Pendampingan SL-PTT, bertempat di aula BPTP Yogyakarta. Sosialisasi KATAM diikuti oleh 70 Orang peserta dari dinas terkait, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian,  Kabupaten dan Propinsi DI. Yogyakarta, Penyuluh BPP  Wilayah Provinsi DI. Yogyakarta dan Peneliti serta Penyuluh BPTP Yogyakarta.

Kepala BPTP Yogyakarta Dr. Sudarmaji  dalam sambutannya mengatakan bahwa sosialisasi ini merupakan diseminasi langsung supaya dapat digunakan sebagai dasar penyuluhan untuk mendukung program-program utama/strategis Kementan, sebagaimana Peraturan Menteri Pertanian No.45/Permentan/OT.140/8//2011. Tanggal 23 Agustus 2011 tentang Tata Hubungan Kerja Antara Kelembagaan Teknis, Penelitian dan Pengembangan, dan Penyuluhan Pertanian dalam mendukung peningkatan produksi beras Nasional (P2BN). Salah satu maksud dan tujuan Permentan No.45 tersebutadalah  “ Meningkatkan koordinasi dan sinergitas program dan kegiatan antara Dinas Teknis Pertanian yang membidangi tanaman pangan, BPTP dan Kelembagaan Penyuluh ditingkat Provinsi”. Kepala BPTP Yogyakarta lebih lanjut mengharapkan seluruh peserta sosialisasi untuk menjalankan tugas sesuai dengan tanggungjawab masing-masing, bersinergi untuk mendapatkan hasil yang optimal, dan memberi  masukan hal-hal apa yang perlu diperbaiki  mengenai  pelaksanaan Permentan No.45 tersebut.

Kebutuhan beras nasional RI saat ini sebesar  70,60 juta ton/tahun, dalam jangka waktu 5 tahun kedepan Kementan ditargetkan untuk dapat menghasilkan surplus beras sebanyak 10 juta ton. Upaya pencapaian produksi tersebut memerlukan adanya perhitungan yang cermat terkait dengan iklim, maka Badan Litbang bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah membuat Kalender Tanam Terpadu untuk setiap kabupaten, harapannya petani dapat melihat kapan waktu untuk melakukan penanaman pada musim  tanam kedepan sekaligus rekomendasi penggunaan varietas dan pemupukan yang rasional. Sosialisasi dari awal sampai berakhirnya acara berjalan dengan lancar dan kondusif, peserta penuh perhatian, pada saat dijelaskan mengenai bagaimana cara untuk mengetahui tentang KATAM (Kalender Tanam) menggunakan Hand Phone hampir seluruh peserta mempraktekkannya dan ingin mendapatkan penjelasan dari narasumber. (Fhu 2013).

LAST_UPDATED2
 
Sulap Sayuran Seperti Tanaman Hias PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Jumat, 18 Oktober 2013 10:00

SELAMA ini, tanaman hias kebanyakan hanya sebagai tanaman penghias rumah dan terhadang tidak bisa memproduksi yang bisa dimanfaatkan oleh pemiliknya. Namun dengan konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), bisa menyulap tanaman sayuran dikemas seperti tanaman hias. Selain hasil produksinya bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, juga bisa mempercantik rumah. Tim KRPL Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Ir Rudy Harwono MP menjelaskan, konsep KRPL ini memanfaatkan lahan semaksimal mungkin dengan cara menanam sayuran menggunakan polibot, pot, pralon dan lainnya. Sehingga tanaman itu bisa dipindah-pindah.

Jadi menanam sayuran tidak harus di lahan yang luas, karena selama ini masyarakat masih berpikir menanam sayuran di lahan luas. Tapi dengan konsep ini, di lahan yang cukup sempit pun bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran karena menanamnya tidak di tanah langsung," kata Rudy kepada KR. Dijelaskan, konsep ini untuk mengubah pola pikir masyarakat, bagaimana halaman rumah tetap indah, tapi bisa dipanen. Memakai konsep ini, masyarakat bisa menanam terong, cabai, tomat, sawi, slada, timun, bayam, buah-buahan, atau kebutuhan rumah tangga lainnya. "Slogan kami, halaman indah, sayuran berlimpah, pendapat bertambah. Jika tidak ada pendapatan, paling tidak bisa mengurangi pengeluaran karena hasil panen bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehingga tidak perlu belanja sayuran lagi,"jelasnya.

Modifikasi

Agar tampilan sayuran lebih menarik, masyarakat bisa memodifikasi cara menanamnya. Misalnya dengan pot veltikultur  yakni dengan pralon ukuran 6 inci dan 133 cm bisa ditanami 22 sayuran. Caranya, pinggir pralon itu dilubang untuk menanam sayuran dan di dalamnya diberi tanah. Kemudian agar tanaman bisa disirami, di tengah-tengah pralon ditempatkan pralon yang ukurannya lebih kecil. 'Ibnpa ryremanfaatkan lahan yang luas, namun hanya membutuhkan luas 25 cm x 25 cm dan ketinggian 133 cm sudah bisa untuk menanam 22 sayuran. Hal ini cukup praktis, bahkan tampilannya lebih menarik. Masyarakat bisa mengembangkan sendiri untuk berkreasi," ujarnya. Dikatakan, konsep KRPL ini tidak hanya sekadar pemanfaatan pekarangan. Namun juga kemandirian pangan, diversifikasi pangan berbasis sumber pangan lokal, pelestarian sumber daya genetik dan kebun bibit. (Saifullah Nur lchwan)

Sumber; Kedaulatan Rakyat.

LAST_UPDATED2
 
Apresiasi Terhadap Pelaksanaan Kegiatan BPTP Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Suharno   
Jumat, 11 Oktober 2013 14:24

Dua minggu yang lalu BPTP Yogyakarta telah menyelenggarakan beberapa event kegiatan dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan yang pertama dilaksanakan yaitu peresmian Gedung UPBS BPTP Yogyakarta oleh Kepala BBP2TP mewakili Kepala Badan Litbang Pertanian. UPBS BPTP Yogyakarta merupakan UPBS “high profile”, namun demikian masih perlu berbagai penyempurnaan.

Kegiatan kedua yaitu Kunjungan Wakil Menteri Pertanian Panen dan meninjau Display KRPL BPTP Yogyakarta dari masing-masing Kelji dan dilanjutkan dengan peneninjauan Gedung UPBS serta meninjau fasilitas Screen field   perbenihan krisan dan bawang merah. Selain di BPTP Yogyakarta Wamentan berkunjung di Pakem berkaitan dengan UPBS Krisan.

Sukses berikutnya yaitu penyelegaaraan KRPL Badan Litbang Pertanian pada Pekan Flori Flora Nasional (PF2N) yang diselenggarakan di Yogyakarta. KRPL Badan Litbang Pertanian mendapat pengunjung yang cukup banyak dari berbagai kalangan. Saat penutupan Wakil Menteri Pertanian bersama Wakil Gubernur DIY, Dirjen Hortikultura, dan Gubernur Sulawesi Selatan panen krisan pada penutupan Pekan Flora Flrori 2013.

Sedangkan kegiatan terakhir yaitu peresmian Kampung Integrasi Kambing-Kakao di Kelompok Tani “Andum Rejeki” Dusun Padaan Ngasem, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo oleh Wakil Gubernur DIY.  Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BPTP Yogyakarta dalam sambutan Upacara memperingati hari Kesadaran Nasional  pada hari Kamis (17/10).

LAST_UPDATED2
 
Kampung Integrasi Kambing Kakao Hasil Pengkajian BPTP Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Wiendarti Indri Werdhany   
Kamis, 10 Oktober 2013 08:20

Salah satu lokasi pengkajian Badan Litbang Pertanian di Dusun Padaan Ngasem, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo pada tanggal 9 Oktober 2013 diresmikan oleh Bapak Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi Kampung Integrasi Kambing Kakao.

Pada awalnya, kondisi dusun ini sebagian besar terdiri atas petani yang melakukan usahatani kakao dan ternak kambing secara sederhana. Tanaman kakao yang dimiliki oleh petani umumnya telah berumur lebih dari 20 tahun dengan produksi rendah yaitu sekitar 215 kg per hektar per tahun, sehingga petani mulai kurang bergairah dalam usahatani kakao, apalagi banyak tanaman kakao yang terserang penyakit. Sebagian besar ternak kambing yang dimiliki petani adalah kambing kacang yang dipelihara di kandang seadanya berlantai tanah. Sebagian besar petani di dusun tersebut juga belum melaksanakan integrasi tanaman kakao dengan ternak kambing. Penggunaan limbah kakao untuk pakan ternak kambing maupun penggunaan kotoran ternak kambing untuk pupuk bagi tanaman kakao sangat terbatas.

Pada tahun 2012, BPTP Yogyakarta berhasil memperoleh kegiatan pengkajian kompetitif tentang model pengembangan integrasi tanaman kakao dengan ternak kambing yang ditempatkan di lokasi/dusun tersebut. Hasil dari pengkajian menunjukkan bahwa model pengembangan integrasi dapat meningkatkan produksi kakao dari 215 Kg menjadi 597 Kg per hektar dan pendapatan petani meningkat dari Rp. 423.000 menjadi Rp. 2.481.250 per tahun dari hasil usahatani kakao dan ternak kambing. Dalam model integrasi tersebut terdapat inovasi teknologi penggunaan kotoran ternak  kambing (padat) diolah menjadi pupuk bagi tanaman kakao dan teknologi pengolahan kulit buah kakao untuk pakan ternak kambing. Inovasi teknologi tersebut memiliki nilai margin benefit cost ratio 5,1 hingga 8,8 sehingga layak untuk dikembangkan di lokasi tersebut.

Pada tahun 2013, pengkajian kompetitif di lokasi tersebut dilanjutkan dengan fokus pada inovasi teknologi yang berpengaruh besar terhadap produktivitas kakao dan ternak kambing serta meningkatkan peran ternak kambing dalam memberi sumbangan bagi pendapatan petani. Perubahan fisik di dusun tersebut telah terjadi secara nyata dari hasil kegiatan pengkajian ini, yaitu antara lain adalah :

Pada tahun 2011 di Dusun tersebut belum ada kandang kambing model panggung, pada tahun 2012 telah berdiri 4 kandang panggung di lokasi tersebut dan pada tahun 2013 telah berdiri 6 kandang panggung lagi sehingga total menjadi 10 kandang. Kandang panggung rata-rata berukuran 2,5 m X 6 m, dibangun dari bahan kayu dan atap genteng serta dibiayai oleh swadaya petani.

Pada tahun 2011 di Dusun tersebut, lebih dari 80% peternaknya memelihara ternak kambing kacang, pada tahun 2012 tinggal 60% yang pelihara kambing kacang dan tahun 2013 telah berkurang menjadi 40%. Peternak sebagian telah berubah memelihara jenis kambing Bligon dan Boergon. Kambing Boergon adalah persilangan antara kambing Bligon dengan pejantan Boer. Kedua jenis kambing ini memiliki bobot badan lebih besar dibandingkan kambing kacang.

Pada tahun 2011 sebagian petani belum memupuk tanaman kakao dengan pupuk organik, pada tahun 2012 sebagian petani sudah menggunakan pupuk organik padat, pada tahun 2013 sebagian petani telah menggunakan pupuk organik padat dan cair dari kotoran ternak kambing.

Pada tahun 2011 belum ada kandang jepit untuk kawin kambing, pada tahun 2012 terdapat 2 kandang jepit pada 2 lokasi peternak dan pada tahun 2013 sebanyak 2 kandang jepit tadi dapat digilir digunakan pada 10 lokasi peternak.

Pada tahun 2012 terjadi perubahan pemberdayaan petani, yaitu dengan adanya Rabu kakao yang artinya setiap hari Rabu digunakan untuk perawatan kebun kakao secara gotong royong dan pada tahun 2013 muncul Rabu Kambing yaitu setiap hari Rabu digunakan untuk melakukan perawatan ternak kambing secara bersama-sama.

Pada tahun 2013, pertambahan bobot badan ternak kambing dapat ditingkatkan dari 50 g menjadi 60 g/ekor/hari (meningkat 20%) dengan penambahan pakan berupa daun kakao segar sebanyak 2 kg/ekor/hari. Daun kakao ini diperoleh dari hasil pemangkasan batang pohon kakao yang biasa dilakukan oleh petani pada saat akan melakukan pemupukan. Pemangkasan batang pohon kakao ini akan mengakibatkan penggunaan pupuk efektif.

Komponen integrasi, jika pada tahun 2012 hanya terbatas pada penggunaan kulit buah kakao untuk pakan ternak kambing dan penggunaan kotoran padat untuk pupuk tanaman kakao, namun pada tahun 2013 komponen integrasi meningkat yaitu penggunaan kulit buah kakao dan daun kakao untuk pakan ternak kambing serta penggunaan pupuk dari kotoran padat dan kotoran cair (urin) ternak kambing.

Inovasi teknologi yang telah dihasilkan dari pengkajian ini antara lain adalah teknologi (1) pembuatan pupuk organik padat dari kotoran ternak kambing, (2) pembuatan pupuk organik cair dari kotoran ternak kambing, (3) pemupukan pada tanaman kakao, (4) pengendalaian hama dan penyakit pada tanaman kakao, (5) penggunaan kulit buah kakao sebagai pakan ternak kambing, (6) penggunaan daun kakao sebagai pakan ternak kambing, (7) kandang jepit untuk kawin ternak kambing dan (8) penerapan kalender ternak untuk meningkatkan jumlah kelahiran anak kambing.

Dalam kurun 2 tahun pengkajian telah terjadi perubahan fisik di lokasi tersebut dan telah dihasilkan inovasi teknologi integrasi kambing kakao. Untuk itu, pada tanggal 9 Oktober 2013 di lokasi pengkajian tersebut diresmikan menjadi kampung integrasi kambing kakao, bersamaan dengan acara temu lapang, pameran dan lelang ternak kambing yang dibuka oleh Bapak Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam acara Temu Lapang disampaikan pengalaman petani kelompok tani Andum Rezeki yang telah melaksanakan integrasi kambing kakao. Dalam Pameran dan Lelang Ternak diikuti oleh 60 ekor ternak kambing hasil pengkajian. Kambing yang dilelang adalah kambing Bligon dan Boergon (persilangan kambing Boer dengan kambing Bligon.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com