Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
KRPL
UPBS BP2TP
banner2
e-Produk
Tikus
Pengenalan Ayam KUB

Galeri Foto

Berita
Indo Jarwo Transplanter Mampu Mengatasi Permasalahan Lahan Sawah Sampai Kedalaman 60 cm PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 26 Agustus 2014 08:26

Usaha pemerintah melalui Kementerian Pertanian untuk mewujudkan program penyediaan padi sebesar 75,7 juta ton GKG pada tahun 2010 – 2014 menghadapi berbagai kendala, antara lain menurunnya luas areal sawah akibat laju konversi lahan sawah ke non-sawah, kelangkaan tenaga kerja di bidang pertanian, menurunnya minat generasi muda pada usaha sektor pertanian, masih tingginya susut panen padi, terbatasnya air irigasi dan menurunnya kinerja sebagian besar sistem irigasi, dan ancaman perubahan iklim global.

Salah satu strategi untuk mengatasi ancaman tersebut adalah dengan penerapan mesin tanam bibit padi dan pemanen padi. Penerapan mesin-mesin tersebut diperlukan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja, mempercepat dan mengefisiensikan proses, dan sekaligus menekan biaya produksi.

Pada tahun 2013 Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) telah menghasilkan prototipe mesin tanam bibit padi Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe I. Jarwo atau jajar legowo yaitu metode tanam dengan jarak antar baris tanaman 20 cm x 20 cm dengan jarak dalam barisan tanam 12,5 – 13 cm, diselingi jarak kelompok antar barisan tanaman berikutnya selebar 40 cm.

Mesin Indo Jarwo Transplanter  2:1 prototipe I mampu melakukan tanam bibit padi seluas 1 hektar dalam waktu sekitar 5 – 6 jam. Selain itu mesin ini mampu menurunkan biaya tanam dan sekaligus mempercepat waktu tanam. Namun dari berbagai hasil operasional di lapangan terlihat bahwa Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe I selalu sulit beroperasi pada lahan sawah dengan kondisi tanah berlumpur dalam (lebih dari 30 cm) apalagi berat. Pada kondisi tersebut mesin transplanter tidak dapat berjalan dan terperosok tenggelam.

Guna menyesuaikan kondisi tersebut, dilakukan beberapa perubahan beberapa komponen penting pada sistem penggerak daya, transportasi dan pelampung. Adanya tiga bagian perubahan utama menjadikan mesin Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe II yang dibuat pada tahun 2014 mampu beroperasi dengan mudah pada lumpur sawah yang berat dengan kedalaman sampai 60 cm di Kepanjen, Malang.

Kapasitas kerja mesin mencapai 5 jam/ha atau mampu menggantikan tenaga kerja tanam sebanyak + 25 orang/hektar, kecepatan jalan pada saat operasional mencapai 3 km/jam. Uji coba pada tahun 2014 telah dilakukan di Kebun Percobaan Muara Bogor, lahan sawah petani di Kawunganten Cilacap, Jawa Tengah dan lokasi Temu Penas 2014 di Kepanjen Malang. Demo mesin Indo Jarwo Transplanter 2:1 prototipe II di lokasi Penas 2014 disaksikan langsung oleh Presiden RI beserta Ibu dan rombongan.

Sumber : Badan Litbang Pertanian

LAST_UPDATED2
 
Panen dan Temu Lapang Pendampingan SL-PTT Kedelai di Bantul PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dwi Titaningsih   
Kamis, 21 Agustus 2014 09:57

              Untuk menyebarluaskan teknologi PTT dan produksi benih unggul kedelai telah dilaksanakan temu lapang PTT kedelai sekaligus panen di Kelompok Tani Tani Harjo di Dusun Tegalsempu, Desa Caturharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Rabu (20/8/2014). Kegiatan tersebut merupakan forum pertemuan antara peneliti, penyuluh, petani, dan penentu kebijakan untuk mendiskusikan hasil pelaksanaan dan implementasi teknologi PTT kedelai, tukar menukar informasi dan pengalaman serta mendapatkan umpan balik, respon dan kemungkinan pengembangan inovasi secara luas. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (Balitkabi) Balitbangtan, Dinas Pertanian DIY, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, BPP Pandak, serta kelompok Tani Tani Harjo.

          Acara panen dan temu lapang PTT kedelai Bupati Bantul diwakili Staf Ahli Bupati/Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Dr. Partogi Pakpahan, M.Sc, Kepala BPTP Yogyakarta Dr.Sudarmaji, UPTD BPPTPH DIY, BKP3 Bantul, BPP Pandak serta pejabat lainnya dari instansi terkait, peneliti pendamping Balitkabi Balitbangtan dan peneliti penyuluh BPTP Yogyakarta.

          Kepala BPTP Yogyakarta dalam sambutannya antara lain menyatakan bahwa melalui  kegiatan Temu Lapang ini diharapkan teknologi tersebut dapat diadopsi oleh para petani dalam rangka meningkatkan produktivitas kedelai khususnya di wilayah DIY. Bupati Bantul yang diwakili Plt Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul mengatakan bahwa ke depan kita harus bahu membahu dalam mewujudkan kedaulatan pangan dengan dukungan anggaran yang memadai di sektor pertanian sehingga bisa mencapai target yang ditetapkan termasuk mengantisipasi fenomena iklim yang fluktuatif. Peneliti pendamping Balitkabi Balitbangtan Dr. Muchlies Adi  memberikan sambutan bahwa Balitbangtan melalui BPTP Yogyakarta akan mendampingi perbenihan varietas Argomulyo yang diminati petani karena keragaan sudah bagus dan teknologi budidaya kedelai DIY sudah cukup berkembang, untuk itu perlu dukungan perluasan areal dan peningkatan produktivitasnya supaya tidak terjadi ketergantungan pada impor.

         Wardono sebagai ketua Kelompok Tani Tani Harjo memberikan laporan dan penjelasan display PTT kedelai yang dilaksanakan pada areal seluas 6,5 Ha, melibatkan 50 petani kooperator dengan varietas kedelai yang ditanam adalah Argomulyo, Anjasmoro, Grobogan, Kaba, Burangrang dan Gema. Teknologi PTT yang diterapkan adalah TOT (tanpa olah tanah) dengan jarak tanam 40 x (10-15) cm, 2-3 biji perlubang, pemupukan NPK Phonska 200kg/ha. Varietas yang paling banyak disukai petani adalah Argomulyo (100%), Anjasmoro (93,75%), Grobogan (87,50%), Burangrang (81,25%), Gema (81,25%) dan Kaba (75%). Hasil produksi Display VUB kedelai Argomulyo berat ose kering 13,28-20,66 (ku/ha), Anjasmoro 21,63-22,90 (ku/ha), Grobogan 11,51-21,85 (ku/ha), Gema 12,39 (ku/ha), Burangrang 18,94-24,30 (ku/ha),Kaba 25,09-25-27 (ku/ha).

 

LAST_UPDATED2
 
Forum Komunikasi Ilmiah Meningkatkan Kemampuan Peneliti PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 19 Agustus 2014 07:44

Forum Komunikasi ilmiah BPTP Yogyakarta diselenggarakan pada Hari Jumat (8/8/2014) mempresentasikan 14 makalah yang akan diseminarkan di Semiloka Nasional Universitas Satya Wacana Salatiga. Keempat belas makalah tersebut meliputi :

1) Pola Usahatani Integrasi Antara Tanaman Ternak Dalam Upaya Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan di DIY (Nur Hidayat),

2) Inovasi Teknologi Jagung Hibrida di Lahan Sawah Kulon Progo DIY (Eko SH dkk),

3) Kajian Teknologi Inovatif Tepat Guna Berwawasan Lingkungan Melalui Agribisnis Krisan di Kab. Sleman DIY (Hano H dkk),

4) Teknologi Pembibitan Sapi Potong di Kelompok Ngudimulyo Kabupaten Bantul (Erna W dkk),

5) Infeksi Telur Cacing Parasit Organ Pencernaan Pada Kelompok Tani Ngudi Mulyo Wonolelo Pleret, Bantul (Ari W dkk),

6) Display VUB Padi Sawah di Kab Kulon Progo Untuk Mendukung Swasembada Beras Berkelanjutan (Sarjiman dkk),

7) Efisensi Biaya Produksi Mocaf Dengan Introduksi Starter Bimo di Desa Rawan Air (Retno Utami dkk),

8) Sistem Irigasi Tetes Untuk Efisiensi Air Siraman Pada Budidaya Krisan di Pekarangan (Sarjiman dkk),

9) Usahatani di Lahan Pasir Pantai Sebagai Upaya Pemanfaatan Lahan Marjinal di Bantul DIY (Subagiyo dkk),

10) Disain Pendampingan m-KRPL di Desa Dadapayu Kab. Gunungkidul Yogyakarta (studi kasus : MKRPL KWT Tunas Harapan Wilayah Dadapayu-Semanu- Gunungkidul (Trijoko S),

11) Peluang Pengembangan Usahatani Pangan Lokal Ubijalar Lahan Pasir di Desa Poncosari Srandakan Bantul DIY (Budi Setyono dkk),

12) Sikap Perempuan Tani Dalam Pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari Mendukung Kemandirian Pangan di Kabupaten Gunungkidul (Kurnianita dkk),

13) Peran Inovasi Teknologi Dalam Mendukung Perbenihan Padi, Kedelai dan Jagung (Heri Basuki dkk),

14) Persepsi dan Faktor Penentu Distribusi Penerapan Teknologi Dalam Mendukung Bioindustri Kedelai Berkelanjutan (Murwati dkk).

Efisiensi waktu, kualitas tayangan dan kemampuan beragumentasi menjadi kunci dalam pelaksanaan paparan. Kebaruan dan kelengkapan data, pendalaman isu, saran pemecahan masalah dan implikasi kebijakan menjadi faktor yang menentukan kualitas publikasi ilmiah. Ke depan dengan peningkatan kualitas tulisan diharapkan publikasi ilmiah dapat diterbitkan di jurnal nasional maupun internasional.

 
Petani Moyudan Berhasil Panen Dengan Penerapan Teknologi PHTT PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Sylvatra Puspitasari   
Jumat, 15 Agustus 2014 07:45

Pada hari Kamis, 7 Agustus 2014 di Dusun Sangubanyu, Desa Sumber Rahayu, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, dilaksanakan Temu Lapang Display VUB dan Teknologi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) mendukung Bulan Bakti Agroinovasi Teknologi Spesifik Lokasi memperingati HUT Badan Litbang Pertanian ke-40.

Pembukaan acara dilakukan dengan panen padi secara simbolis yang dilakukan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten Sleman, Camat Moyudan, Kapolres, Koramil, BKP4 dan BPTP Yogyakarta. Acara Temu Lapang dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, UPTD BPTP Wonocatur Yogyakarta, Kabid Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Camat Moyudan, Kapolsek Moyudan, Koramil dan Babinsa Moyudan, Kepala Desa Sumber Rahayu, Ketua Gapoktan, Anggota Kelompok Tani, BPP Moyudan, BPP Sedayu Bantul dan Tim PTT BPTP Yogyakarta serta masyarakat setempat.

Beberapa tahun lalu di Kecamatan Moyudan hasil panen padinya tidak begitu tinggi bahkan ada yang gagal panen dikarenakan banyaknya hama tikus yang menyerang sawah. PHTT (Pengendalian Hama Tikus Terpadu) merupakan strategi pengendalian hama tikus yang didasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan. Ada 8 komponen yang harus dilakukan secara terpadu  meliputi: tanam serempak, sanitasi lingkungan/habitat tikus, gropyokan massal, fumigasi lubang tikus (empos), pelestarian musuh alami (ular dan burung hantu), disamping pemasangan TBS (Trap Barrier System)dan LTBS (Linier Trap Barrier System).

Camat Moyudan menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada BPTP Yogyakarta yang telah membina serta memberikan fasilitas kepada petani di daerahnya, sehingga Pengendalian Hama Tikus Terpadu dapat berjalan dengan baik dan juga mendapatkan hasil yang memuaskan. Beliau mengharapkan adanya timbal balik positif dari masyarakat terhadap program yang telah dijalankan oleh BPTP dan semoga kedepan akan tercipta hubungan yang baik.

Tidak beda dengan Lurah Desa Sumber Rahayu yang mengatakan musim panen kali ini cukup baik dibandingkan musim-musim sebelumnya yang sawahnya banyak dirusak oleh tikus. Beliau mewakili pemerintah Sumber Rahayu mengucapkan terimakasih kepada semua petani yang mau ikut serta dalam kegiatan ini dan berharap kegiatan pengendalian hama ini bisa berlangsung secara berkelanjutan.

Sambutan dari Dr. Bambang Sutaryo selaku Penanggungjawab Kegiatan Pendampingan PTT padi dari BPTP Yogyakarta mengatakan agar para petani di Kecamatan Moyudan bisa terus mempertahankan dan sekiranya bisa terus didiseminasikan kepada para petani lainnya terkait inovasi Pengelolaan Hama Tikus Terpadu. Diharapkan dengan adanya inovasi ini dapat membantu petani khususnya di Kecamatan Moyudan dapat kembali bangkit dan tidak akan gagal panen lagi.

Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) menggunakan teknologi TBS (Trap Barrier System) adalah suatu sistem bubu perangkap yang sangat efektif untuk membasmi serangan hama tikus. Terbukti dengan adanya pemasangan TBS petani dapat menangkap 1.170 ekor tikus pada lahan sawah seluas 25 ha dalam satu musim tanam. Bisa dibayangkan jika hama tikus tidak dibasmi maka dapat terjadi ledakan populasi tikus karena dalam 1 periode pertanaman padi 1 induk dapat menghasilkan keturunan 80 ekor tikus.

Saat ditemui usai acara Ketua Kelompok Tani Gemah Ripah mengatakan inovasi TBS ini sangat efektif untuk memberantas hama tikus, dengan adanya teknologi tepat guna TBS “Kami lebih bersemangat lagi dalam menanam padi dan tidak takut lagi akan gagal panen. Hasil dari inovasi ini sangat terasa yang tadinya gagal panen bisa berhasil panen raya”. Setelah menggunakan TBS hasil laporan dari ketua Kelompok Tani Gemah Ripah rerata produktivitas Display VUB mencapai 4,07 ton/ha GKG. Beliau berharap inovasi teknologi TBS ini dapat terus diterapkan oleh masyarakat setempat sehingga Kecamatan Moyudan dapat menjadi lumbung padi di Kabupaten Sleman.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com