Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Jenis informasi apa yang anda diperlukan melalui web site BPTP Yogyakarta:
 
Tikus
Sinta
UPBS BP2TP
e-Produk
banner2
banner1
Pengenalan Ayam KUB
KRPL

Download

Berita
TBS Inovasi Pengendalian Tikus yang Efektif PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Ir. Sarjono, M.Si   
Senin, 06 Januari 2014 08:16

Bupati Sleman, Sri Purnomo, melaporkan bahwa di wilayah Sleman tahun 2013 sasaran luas areal padi 48.018 ha, produktivitas rata-rata mencapai 67,92 kwintal/ha, surplus beras 109.724 ton; 2014 sasaran luas areal padi 44.914 ha, dengan target produktivitas 6,5 ton/ha. Permasalahan di wilayah Sleman Barat areal padi yang rawan serangan hama tikus mencapai + 7.200 ha dimana  kerugian yang ditimbulkan mencapai lebih 100.000 ton/MT. Oleh karena itu Bupati Sleman berharap dengan adanya dukungan inovasi dan teknologi tepat guna TBS yang dikembangkan dapat membantu mengatasi permasalahan hama tikus.

Pernyataan Bupati Sleman tersebut dibenarkan oleh Sumardi anggota Kelompok Tani Sido Lestari, mengatakan bahwa di wilayahnya luas areal padi 73 ha  selama 4 tahun belakangan ini produktivitas berkisar hanya 2- 4 ton/ha, bahkan ada yang tidak  panen akibat serangan hama tikus yang terus-menerus. Selanjutnya dikatakan dengan adanya Program Pengendalian Tikus Terpadu, kerjasama BPTP Yogyakarta dengan PT. Petro Kimia, Dipertahut Sleman dan Kelompok Tani Sido Lestari, hasil panen padi bisa mencapai  8-10 ton/ha GKP, dengan menanam VUB Inpari 19. Bila selama 4 tahun kemarin kami tidak panen padi, dengan adanya teknologi tepat guna TBS kami lebih bersemangat lagi menanam padi.  Hal tersebut  terungkap pada acara Panen Raya Padi pada Program Pengendalian Tikus Terpadu pada Lokasi GP3K (Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi) PT. Petrokimia Gresik, di Berjo Kulon Desa Sido Luhur, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, tanggal 3 Januari 2014.  Hadir pada acara tersebut Menteri Negara BUMN, Gubernur D.I. Yogyakarta, Bupati Sleman dan Kepala BPTP Yogyakarta serta 2.000 undangan lainnya.

Menurut Dr. Sudarmaji (Ka. BPTP Yogyakarta), sebagai pakar pengendalian tikus Indonesia sekaligus penemu teknologi TBS (Trap Barrier System) dan LTBS (Linier Trap Barrier System) mengatakan bahwa TBS dan LTBS adalah teknologi perangkap tikus dengan menggunakan perangkap bubu dan tanaman pemikat. Teknologi ini sangat efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak dan terus menerus sejak awal tanam hingga panen. Namun demikian Sudarmaji juga mengingatkan bahwa pada wilayah yang endemis tikus pengendalian harus dilakukan secara terpadu.  Ada 8 komponen yang harus dilakukan secara terpadu meliputi : tanam serempak, sanitasi lingkungan/habitat tikus, gropyokan massal, fumigasi lubang tikus (pengemposan), pelestarian musuh alami (ular dan burung hantu), disamping pemasangan TBS dan LTBS.

Berdasarkan hasil demplot penerapan pengendalian tikus terpadu, dengan hamparan tanaman padi seluas 73 ha tikus yang tertangkap +14.200 ekor,  yang tertangkap dengan perangkat TBS dan LTBS (9 ha) sebanyak 2.098 ekor. Dengan asumsi perbandingan tikus jantan dengan betina (1:1) berarti ada 7.100 pasang tikus, apabila induk betina tikus beranak 50 – 80 ekor, berarti dapat mengendalikan hama tikus sebanyak (7.100 x 65) atau 461.500 ekor pada musim tanam yang akan datang. Berapa nilai kerugian yang diakibatkan oleh serangan tikus sebanyak hampir setengah juta ekor ? Sudarmaji juga berpesan, bahwa agar kekhawatiran serangan tikus tidak terulang, maka pelaksanaan pengendalian tikus secara terpadu sebaiknya dilakukan selam 4 musim tanam secara terus menerus, baru wilayah tersebut aman.

Pada kesempatan tersebut Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono  X, mengharapkan dukungan dari Kementerian BUMN agar pengendalian hama tikus terpadu dan GP3K dikembangkan lebih luas lagi di wilayah DIY. Sedangkan kepada masyarakat/petani  wilayah Moyudan,  Minggir dan Godean  diharapkan mau dan sepakat melakukan perubahan pola tanam yang selama ini “padi-padi-pantun”, menjadi “padi-padi-palawija” atau “padi-padi-sayuran” hal ini agar tidak terulang lagi terjadi serangan tikus secara eksplosif, seperti yang terjadi sejak dahulu.

Menanggapi permintaan Sri Sultan Hamengkubuono  X, Dahlan Iskan mengatakan bahwa Kementerian BUMN akan mendukung upaya peningkatan produksi beras nasional dan pengendalian hama tikus terpadu di wilayah D.I.Yogyakarta melalui program GP3K. Selanjutnya dikatakan bahwa serangan hama tikus yakin dapat ditaklukkan, yaitu dengan penerapan teknologi PHTT khususnya penerapan TBS secara meluas di lokasi-lokasi endemis tikus, tetapi juga perlu didukung semangat kebersamaan para petani untuk bergotong-royong dalam mengatasi hama tikus.

LAST_UPDATED2
 
Pengendalian Tikus Sistem TBS PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Arlyna   
Senin, 30 Desember 2013 09:16

Trap Barrier System (TBS) teknologi perangkap tikus dengan menggunakan perangkap bubu dan tanaman pemikat. Teknologi ini terbukti efektif menangkap tikus dalam jumlah banyak dan terus menerus sejak awal tanam hingga panen. TBS sangat efektif diterapkan pada daerah endemik tikus dengan tingkat populasi yang tinggi.

A.    TBS dengan Tanaman Perangkap Ditanam Lebih Awal (TBS Standar)

a.   Tanaman perangkap TBS ditanam 3 minggu lebih awal dibandingkan pertanaman padi disekelilingnya. Hal ini dimaksudkan untuk menarik tikus datang dari lingkungan sekitarnya hingga radius 200 m. Petak tanaman perangkap berukuran kurang lebih 25 x 25 m atau lebih, sehingga berfungsi optimal untuk menarik tikus supaya datang. Pada saat tanaman perangkap ditanam, lahan disekitarnya masih dalam periode olah tanah, sehingga petak TBS akan lebih dahulu memasuki stadia bunting. Perbedaan umur tanaman antara TBS dan sekitarnya tersebut akan membuat tikus tertarik mendatangi petak TBS.

b.    Pagar plastik dapat berupa plastik bening (0,8 mm), plastik mulsa, atau plastik terpal (semua warna dapat digunakan) yang dipasang dengan tinggi 60 - 70 cm mengelilingi tanaman perangkap. Pemasangan pagar plastik ditegakkan dengan ajir bambu pada setiap jarak 1m dan ujung bagian bawah terendam air dalam parit.  Lebar parit ± 50 cm dan harus selalu terisi air agar tikus tidak melubangi pagar. Parit tidak boleh ditanami padi dan harus bebas gulma supaya tidak digunakan untuk memanjat tikus melompati pagar plastik.

c.    Bubu perangkap dibuat dari ram kawat kotak berukuran  40 x 20 x 20 cm, dilengkapi dengan corong masuk tikus (depan) dan pintu (belakang) untuk mengeluarkan tikus. Bubu perangkap dipasang pada setiap sisi pagar dengan jarak masing-masing perangkap 20 m, dan corong masuk menghadap keluar.

 

B.    TBS Persemaian

Persemaian dapat difungsikan sebagai TBS dengan cara pemasangan pagar plastik dan bubu perangkap. Bekas persemaian tersebut selanjutnya ditanami padi varietas umur genjah (contohnya varietas Dodokan) agar memasuki stadia generatif terlebih dahulu. Kombinasi cara tersebut terbukti efektif setara dengan TBS standar.

C.    TBS dengan Tanaman Perangkap Ditanam Lebih Akhir

Komponen TBS ini sama seperti TBS Standar, tetapi tanaman perangkap ditanam 3 minggu lebih lambat dibandingkan pertanaman petani di sekitarnya. Ketika tanaman padi petani sudah dipanen, petak tanaman perangkap TBS akan menjadi “tanaman penarik” tikus dari segala arah. Jika banyak tikus tertangkap diakhir pertanaman, maka pada musim tanam berikutnya populasi awal tikus sawah akan rendah.

PEMASANGAN TBS

a.    Dibuat parit dengan lebar ± 50 cm. Batas parit adalah pematang ganda dengan lebar masing-masing pematang ± 20 cm.  Jangan ditanami padi di parit tersebut.

b.   Pemasangan pagar plastik:


Untuk plastik bening:

Ajir bambu dipancangkan setiap jarak 1 m (di parit, menempel pematang dalam), kemudian tali rafia dipasang (menghubungkan antar ajir), selanjutnya plastik dipasang dengan cara dijahit menggunakan lidi pada tali rafia.


Untuk plastik terpal:

Ajir bambu dimasukkan pada setiap tempat jahitan untuk ajir, kemudian terpal dibentangkan kuat-kuat, dan terpal diposisikan menempel pematang dalam.

c.    Pemasangan bubu perangkap:

Dipastikan bubu perangkap rapat menempel pagar plastik/terpal supaya tikus tidak dapat menerobos masuk.


d.    Pemasangan jembatan kayu.

Dibuat gundukan tanah atau jembatan bambu/kayu di depan corong bubu agar tikus mudah menemukan pintu masuk.

LAST_UPDATED2
 
Usia Tua Tak Menghalangi Belajar PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Kamis, 19 Desember 2013 13:33

Usia boleh tua namun hal itu tidak mengahalangi untuk belajar dan tetap semangat untuk maju dalam mengusahakan lahan pekarangan. Hal ini tercermin antusiasme para peserta Pelatihan Penerapan KRPL (Kawasan Pangan Lestari) yang diselenggarakan oleh BPTP Yogyakarta bekerjasama dengan Kowani Cabang Yogyakarta. Peserta pelatihan ini kebanyak telah usia tua yang berasal dari berbagai wilayah Yogyakarta bahkan acara ini dihadiri pengurus Kowani lain yang berasal dari Jakarta.

Penyajian materi utama pelatihan diawali dengan materi Budidaya Tanaman Sayuran di Pekarangan. Materi ini membahas jenis-jenis sayuran yang dapat usahakan pada lahan pekarangan meliputi  tanaman bawang daun, sledri, selada, bayam, terong, cabai, tomat dan kangkung. Sedangkan materi berikutnya tentang Budidaya Tanaman Sayuran menyajikan media tanam, penyemaian, pemindahan tanaman, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian OPT sampai dengan pasca panen sayuran. Teknik penyemaian dengan memanfaatkan plastik maupun paralon, sedangkan pemeliharaan tanaman sayuran dengan memanfaatkan plastik polibag, paralon, bambu maupun media tanam. Materi terakhir yaitu teknik pembuatan arang sekam sebagai media tanam sayuran dalam polibag. Materi ini selain teori dilakukan pula praktek pembuatan media tanam, pemindahan benih tanaman sayuran dan pembuatan arang sekam dengan menggunakan pipa seng.

Dalam sambutan pembukaan Ketua Kowani Dr. Y. Sari Murti W. SH. M. HUM menyampaikan bahwa melalui pelatihan ini mejadi motivasi dan semangat bagi ibu-ibu untuk mengusahakan kehidupan yang lebih baik utamanya penyediaan pangan yang sehat. Lebih lanjut beliau mengemukakan sebagian kebutuhan sayuran dapat disediakan oleh ibu-ibu sendiri, namun karena belum mengetahui hal itu belum dapat dilakukan. Dengan semangat ingin hidup sehat melalui pelatihan penyediaan sayuran kedepan dapat diwujudkan.

Kepala BPTP Yogyakarta, Dr Sudarmaji pada acara pembukaan pelatihan menyampaikan bahwa BPTP Yogyakarta merupakan UPT Pusat Kementerian Pertanian. Demikian pula tindak lanjut kerjasama Kowani dengan BPTP Yogyakarta dalam bidang teknologi pertanian kedepan untuk ditingkatkan.

LAST_UPDATED2
 
Membangkitkan Kembali Kopi Robusta PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Kusnoto, S.Sos   
Senin, 16 Desember 2013 07:26

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta  melakukan Temu Lapang MKRPL di Dusun Pentingsari Umbulharjo Cangkringan Sleman. Temu lapang terselenggara atas kerjasama BPTP Yogyakarta dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB). Lokasi ini merupakan salah satu dusun penghasil kopi robusta di Umbulharjo.

Selain kopi, di wilayah tersebut dikembangkan MKRPL (Model Kawasan Rumah Pangan Lestari) untuk mendukung upaya pemerintah dalam ketahanan dan kemandirian pangan. Prinsip utama KRPL adalah pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta peningkatan pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan pekarangan yang optimal antara lain dapat memenuhi kebutuhan konsumsi dan gizi keluarga, menghemat pengeluaran rumah tangga dan dapat memberikan nilai tambah untuk kesejahteraan. Upaya pengembangan kawasan tersebut, tidak terlepas membangkitkan kembali Desa Wisata khususnya produk kopi robusta maupun olahan pangan bagi para pengunjung dengan memetik sayuran, buah maupun menikmati alam sekitar.

Ir. Budiyanto dari Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian, perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman menyatakan kegiatan KRPL yang dikembangkan di Desa Wisata ini sangat penting untuk mendukung program kunjungan wisata. Hal ini disampaikan  atas pendampingan inovasi teknologi  pertanian oleh BPTP Yogyakarta di Kelompok Tani Tunggak Semi khususnya dalam  kegiatan MKRPL  yang meliputi: budidaya tanaman berbagai sayuran, jambu biji, garut, pegagan dan jahe serta pelatihan pasca panen seperti pengolahan kripik bayam, kenikir, katuk, pembuatan Terama, Torama dan jahe instan. Pelatihan dan pendampingan ini merupakan usaha untuk menyambut kunjungan wisata ke Dusun Pentingsari dalam mengembangkan  agrowisata di Lereng Merapi.

Kepala BPTP Yogyakarta yang diwakili oleh  Heni Purwaningsih, STP. MP. mengatakan bahwa bentuk pendampingan inovasi teknologi dari BPTP Yogyakarta ini merupakan inisiasi untuk mengangkat potensi sumberdaya pertanian spesifik lokasi, dan diharapkan masyarakat disekitar Desa Umbulharjo ini dapat menularkan ilmu MKRPL agar dapat Lestari sesuai dengan prinsip KRPL serta berkembang secara  sinergis untuk mendukung Agro Wisata  di Lereng Merapi.

LAST_UPDATED2
 
Bahagia Saat Purna Tugas PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Antal Sutrisno, S.SST   
Jumat, 13 Desember 2013 10:42

Masa pensiun adalah masa yang secara alamiah akan menghampiri setiap orang, datangnya sudah pasti berdasarkan pencapaian usia tertentu. Karenanya memasuki masa pensiun harus dinikmati dan dianggap sebagai masa yang indah dan cemerlang, sebagai akhir yang indah atau happy ending atau “khusnul khotimah” dari pengabdian sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS). Di masa pensiun PNS mendapat penghargaan berupa uang pensiun, berupa gaji setiap bulan, meski gaji tersebut tidak sebesar gaji dimasa bhaktinya.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)  Yogyakarta dibawah naungan Badan Litbang Kementerian Pertanian pada tahun 2013 mempurnatugaskan sebanyak enam (6) karyawannya, yaitu Bapak Jawari (Januari 2013), bapak Bakat Handayanto (Maret), ibu Nursuestini (Mei), bapak Prayitno (Juni), bapak Rudy Harwono (September) dan yang terakhir bapak Sukarto purna tugas pada bulan November 2013.

Merupakan hukum alam bahwa dari beberapa fase kehidupan yang dihadapi oleh setiap manusia salah satunya memasuki masa pensiun. Pada fase ini secara fisik dan mental tidak banyak lagi kegiatan yang harus dilakukan. Hal-hal rutin yang selama ini sudah secara otomatis berjalan, tidak ada lagi. Jika kita tidak dapat mengelola waktu dengan baik dan efektif, maka akan dirasakan perubahan itu menjadi suatu masalah. Namun perlu di ingat, bahwa ada sesuatu yang dapat diandalkan para pensiunan, yaitu pengalaman, pengetahuan, keahlian dan relasi yang dimilikinya,  bahkan semangat yang selama ini dimiliki harus tetap terpelihara. Perubahan yang dihadapi seharusnya dapat disikapi dengan arif. Manfaatkan dan pelihara apa yang menjadi potensi diri dan kelola waktu dengan efektif. Dengan demikian perubahan yang dihadapi akan dapat berjalan dan dilalui tanpa beban yang berarti. Hadapilah masa pensiun dengan optimis, tetap bersemangat dan dengan hati yang tulus.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com