Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Pengenalan Ayam KUB
KRPL
UPBS BP2TP
banner2
e-Produk
Tikus

Galeri Foto

Berita
Percepatan Penerapan Teknologi Tebu Terpadu Menuju Swasembada Gula D.I.Yogyakarta PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Dra. Tarfuah   
Minggu, 04 Mei 2014 07:27

lam rangka menuju swasembada gula,di Kementerian Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di daerah melaksanakan kegiatan percepatan penerapan teknologi tebu terpadu (P2T3) bersinergi dengan pemerintah daerah setempat.  Berdasarkan data yang ada luas area pengembangan tebu di Indonesia pada tahun 2012, luas total mencapai 451.191.20 ha terdiri beberapa daerah sentra produksi yaitu Jatim 201.636,10 ha (44,73%),  Lampung  113.369,90 ha (23,24%), Jateng 54.679,80 ha (12,12%), Jabar 23.135,60ha (5,13%), Sumsel 22.016,50 ha (4,88%), Sumut 11.028,0ha (2,44%), Sulsel 9.687,70 ha (2,15%), Gorontalo 7.938,00 ha (1,76%), D.I.Yogyakarta 6.999,60 ha (1,55%).  Produksi gula berdasarkan provinsi/lokasi pabrik gula pada tahun 2012, adalah sebagai berikut : Jatim 1.250.745,13ton (48,45%), Lampung 754.846,85 ton (29,24%), Jateng 247.659,62 ton (9,59%), Jabar 109.501,19 ton (4,74%), Sumsel 79.774,70ton (3,09%), Sumut 41.506ton (1,61%), D.I. Yogyakarta 48.217,13 ton (1,48%), Gorontalo 31.849,0 ton (1,23%), Sulsel 27.643,90ton (1,07%).

BPTP Yogyakarta melakukan pendampingan kegiatan percepatan penerapan teknologi tebu terpadu terkait dengan swasembada gula  untuk peningkatan produksi tebu dan rendemen gula. BPTP Yogyakarta melakukan pendampingan kegiatan di D.I.Y. karena terdapat industri pengelolaan tebu Pabrik Gula Madukismo. Lahan untuk pertanaman tebu Daerah Istimewa Yogyakarta sangat terbatas hanya 1,55% kontribusi produksi gulanya  juga cukup kecil. Lokasi pendampingan P2T3 di D.I. Yogyakarta di Dusun Jelapan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul seluas  4,5 hektar, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan 3,5ha, dan BPTP Yogyakarta seluas 1ha. Teknologi yang diterapkan dalam pendampingan Program P2T3 adalah:  Varietas unggul, bongkar ratoon, pengendalian HPT, kultur jaringan;  Varietas unggul tebu yang ditanam adalah: PS 862, PS 864, PS 881, VMC 76-16; dan c. Teknologi budidaya yang diterapkan bongkar ratoon dan Keprasan 3x ini  dapat meningkatkan rendeman tebu 3X lipat dibanding tanpa bongkar ratoon.

Hasil Pengkajian Teknologi Peningkatan Produksi Tebu melalui SLPTT  pada tahun 2013 adalah:

  1. Kegiatan pendampingan percepatan penerapan teknologi terpadu di Yogyakarta, telah dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan petani dalam budidaya tanaman tebu guna meningkatkan produktivitas dan rendemen gula.
  2. Melalui kegiatan pendampingan percepatan penerapan teknologi terpadu di Yogyakarta, masyarakat tani pembudidayaa tanaman tebu di wilayah kabupaten Bantul telah mengenal beberapa varietas unggul baru (varietas PS 862, PS 864, PS 881, dan VMC 76-16) yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian.
  3. Masyarakat tani pembudidayaan tebu di wilayah Dusun Jelapan, Desa  Seloharjo, Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul, telah menerapkan inovasi teknologi Juring ganda, juring tunggal dan ratoon intensif dalam usahatani budidaya tebu.
LAST_UPDATED2
 
Pengendalian Hama Tikus Terpadu di Sleman dan Bantul PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Kusnoto, S.Sos   
Jumat, 02 Mei 2014 14:04

Kegiatan Sosialisasi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) di Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman dan Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul diselenggarakan oleh BPTP Yogyakarta di Balai Desa Sumber Rahayu pada hari Rabu (30 April 2014) yang diikuti oleh  65 peserta terdiri dari Dinas Pertanian DIY, Dinas Pertanian,  Peternakan dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Dinas Pertanian Kabupaten Bantul, PPL Kecamatan Moyudan, PPL Kecamatan Sedayu, Koramil dan Polsek Kecamatan  Moyudan, , Koramil dan Polsek Kecamatan Sedayu, , Kepala Desa  Sumber Rahayu, Kelompok Tani Dusun Sangubanyu dan Goser Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman dan Kelompok tani Dusun Jaten dan Curug Kecamatan Sedayu Kabupaten Bantul.

Dalam Sambutan Kepala Dinas Pertanian DIY yang diwakili oleh Ir.Suparjono menyatakan bahwa pengendalian hama tikus terpadu ini sangat penting karena produktivitas padi dapat tercapai apabila tidak ada seranggan hama tikus di daerah endemik hama tikus, sinergis dan keterpaduan teknis pemberantasan sangat diperlukan. Dalam pengantar kegiatan PHTT yang disampaikan oleh Dr. Bambang Sutaryo bahwa Tikus merupakan hama utama yang menimbulkan kerusakan besar pada tanaman padi sehingga sinergis cara pemberantasan hama tikus perlu mendapat perhatian bersama, serangan karena petani dalam usahatani pola tanam kurang serempak, penggunaan benih varietasnya beragam, dan sanitasi lingkungan tidak terjaga. Eksplosi seranggan hama tikus biasanya lebih cepat karena faktor-faktor tersebut kurang mendapat perhatian dari para petani didaerah endemik tikus.

Kepala BPTP Yogyakarta Dr. Sudarmaji dalam paparannya tentang Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) di DIY mengatakan bahwa  bio-ekologi siklus dan kebiasaan hidup tikus  sangat penting untuk diketahui agar dalam usaha pengendalian hama tikus dapat berhasil dengan baik. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: (1) Pola tanam padi-padi-padi penyebab tingginya populasi tikus, (2) Pengairan yang bergilir, menyebabkan pola tanam tidak serempak, (3) Penggunaan varietas benih tahan hama terbatas  dan (4) Sanitasi lingkungan kurang terjaga. (5) Teknologi PHTT yang direkomendasikan untuk didipublikasikan meliputi: (liflet) terdiri 1. Tanam serempak, 2. Gropyokan missal (populasi turun 50%), 3.Biologi control/predator alami (Burung hantu, ular, musang, anjing, kucing), 4. Fumigasi/Pengomposan, 5.TBS, 6. LTBS dan 6. Rodentisida.  Teknologi pengendalian menggunakan Trap- Barrier System (TBS) dan Linear Trap Barrier System (LTBS) sangat efektif diterapkan pada daerah endemik tikus dengan tingkat populasi tikus yang tinggi seperti  Kecamatan Moyudan dan Kecamatan Sedayu. Masalah dilapangan dalam pengendalian hama tikus  antara lain: (1) Monitoring kegiatan rendah, (2) Penanganan terlambat, (3) Adanya mitos petani bahwa tikus tidak boleh dibasmi (diteksi dini) dan (4) Pelaksanaan tidak berlanjut dan berkesinambungan dalam pengendaliannya.

LAST_UPDATED2
 
Kebutuhan Bibit Bunga Krisan Belum Terpenuhi PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Suharno   
Rabu, 30 April 2014 07:48

Suplay bibit krisan untuk memenuhi kebutuhan bibit krisan di Kelompok Pembudidaya Krisan Kulon Progo belum dapat terpenuhi. Dari jumlah permintaan bibit 15.000 stek baru dapat disuplay sejumlah 12.000 stek, akibatnya penanaman bunga krisan di sebagian lokasi mengalami penundaan. Hal tersebut diungkapkan Sukarso Ketua Kelompo Tani Menoreh Ds. Gerbosari saat diskusi dalam acara sosialisI hasil dan rencana pengkajian dan diseminasi BPTP Yogyakarta di Bappeda Kabupaten Kulon Progo Kamis (24/4). Tanaman bunga krisan awalnya diintroduksikan di Desa Sidorejo Samigaluh Kulon Progo tahun 2011 jumlah kubung yang dibangun sebanyak 2 buah kubung dan saat ini jumlah kubung telah berkembang menjadi 62 buah.

Selain krisan, hal menarik perhatian Kepala Bappeda saat membuka sosialisasi berkaitan dengan varietas padi yang diperkenalkan di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Harapannya, varietas padi yang dikenalkan oleh BPTP Yogyakarta kepada petani tidak terlalu banyak tetapi memiliki karakteristik sesuai spesifik lokasi dengan lokal Kulon Progo hasil yang cukup tinggi. Sejalan dengan upaya peningkatan pendapatan petani, Pemerintah Daerah Kulon Progo melakukan kerjasama dengan Bulog melalui MOU dalam pemberian bantuan beras raskin yang dimodifikasi menjadi rasda (beras daerah berasal dari produksi petani.  Melalui cara ini bantuan raskin yang diberikan dijamin berkualitas dan dapat menyerap produksi petani.

Respon peserta sosialisasi lainnya terkait dengan sistim tanam jajar legowo yang masih belum bisa diterima oleh para penebas yang enggan menebas padi dengan sistem tanam tersebut. PPL sebagai ujung tombak diseminasi teknologi  mengharapkan agar dilakukan pengkajian sistem jajar legowo tersebut. Sinung Rustijarno S. Pi. M.Si mewakili Kepala BPTP Yogyakarta menanggapi permasalahan tersebut menyampaikan bahwa sistem jajar legowo berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Penelitian Padi dan IRRI dapat meningkatkan produktifitas 17-33% dengan menggunakan sistem tajarwo 2:1; 3:1 dan 4:1 karena tanaman meningkat efek tanaman pinggir (borderside effek) sehingga dapat fotosintesis dapat maksimal.

LAST_UPDATED2
 
Budidaya Jagung Sistem Tanam Rapat PDF Cetak E-mail
Berita
Oleh Administrator   
Selasa, 29 April 2014 10:56

Kendala umum yang dihadapi peternak di lahan kering adalah kontinuitas ketersediaan pakan hijauan yang tidak stabil sepanjang tahun. Salah satu upaya penyediaan pakan hijauan adalah dengan penanaman jagung monokultur berjarak tanam rapat.

Penanaman jagung sistem rapat membutuhkan benih 35-40 kg/ha, untuk tanaman yang direncanakan akan dijarangkan bisa menggunakan varietas lokal, sedangkan untuk tanaman yang direncanakan untuk dipanen biji dapat menggunakan varietas unggul. Populasi tanaman pada jarak tanaman rapat 20 cm x 20 cm dapat mencapai 300.000-3500.000 tanaman/ha, setelah berumur 30 Hari Setelah Tanam (HST) dilakukan panen tebon untuk pakan.

Penjarangan tanaman dilakukan secara bertahap hingga pada umur tanaman 60 HST jarak tanam menjadi 40 x 60 cm dengan populasi berkisar antara 90.000-120.000, dipelihara untuk panen jagung pipilan.

Pemupukan tanaman menggunakanpupuk kandang dosis 5-15 ton/ha diberikan pada saat pengolahan tanah, dilanjutkan dengan pemupukan urea 200 kg/ha ditambah SP36 200 kg/ha ditambah KCl 100 kg/ha pada umur 7-10 HST. Selanjutnya pada umur 30-40 HST diberikan pupuk urea 200 kg/ha. Teknologi ini sejak tahun 2008 telah dikembangkan di Kelompok Tani Sido Maju, Dusun Toboyo Timur, Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul dengan 4 model frekuensi penjarangan.

Hasil tebon tercatat berkisar antara 19,9-22,5 t/ha, hasil jagung pipilan kering berkisar antara 4,2-4,6 t/ha. Manfaat teknologi ini adalah dapat menghasilkan jagung pipilan dan tebon sebagai pakan hijauan dan menghemat biaya pembelian pakan hijauan ketika   langka hijauan pada musim kemarau.

LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com